Genggam Cinta Sang Senja

By:Eyin

Beberapa minggu yang lalu,saat saya pulang setelah olahraga pagi di kompleks kampus UB,saya dibuat terpesona oleh sepasang kekasih,ini bukan kemesraan yang biasa ditampilkan oleh muda-mudi yang biasanya,yang peluk sana peluk sini,tapi sebuah genggaman cinta.Mesranya keduanya mengusik saya untuk memotret mereka meski saya harus berlari kecil untuk mendapatkan gambar ,mata saya pun tak lepas dari memperhatikan mereka dan hati saya tak henti-hentinya berandai-andai:ya Allah,semoga masa tuaku nanti seindah mereka.

Cinta kakek dan nenek tua

 

subhanallah

Tergambar jelas,seorang kakek tua yang  terseok-seok ,langkah demi langkah susah ia tapaki,namun semua terasa mudah karena disampingnya ada  tangan kuat yang menggenggam tangan sang kakek.Tangan bidadarinya,saya berpikir meraka suami istri .mereka berjalan saling menuntun,aku terkagum-kagum :setua ini masih bisa saling berbagi,inilah Cinta pikirku.

Begitulah,dunia indah karena cinta.Cinta  memberi apa adanya dan menerima apa adanya.sepantasnya yang muda belajar “lebih” .Bukanlah cinta, bila kita telah berbuat baik, namun hanya berharap ucapan terima kasih.

‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kami pasangan hidup dan keturunan yang menyenangkan hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertaqwa.’( Q.S: Al-Furqaan : 74)

58 thoughts on “Genggam Cinta Sang Senja

  1. Asslaamu’alaykum..wrh..wrb…
    Wuih, eyin ^^v
    fi terkesima, wkwkwk..
    enak yg pny kamera😦 bisa foto2..
    fi cuma ambil gambar di google😦

  2. cinta yang bersemi dalam ikatan pernikahan memang selalu indah.. semoga Allah mempertemukan qta dengan pasangan jiwa qta yang kekal sampai di surga..🙂

  3. so sweet, itukah yang disebut cinta sampai mati hehe,.. indah nya kebersamaan bersama orang yang kita cintai, semoga sampai akhirat kelak..

    salam persohiblogan, salam kenal.. ^_^

  4. pasangan yang unyu.. xixi
    jadi teringet puisi:

    “aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
    yang menjadikannya abu…

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
    yang menjadikannya tiada…”
    — Sapardi Djoko Damono

    Amin untuk doa terakhirnya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s